Hari ini selang empat hari kepergian saya dari Kota Bengkulu. Kota yang
menyisakan kenangan karena untuk kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah
Sumatra. Tanah dimana orang melayu tumbuh sesak memadati setiap bagiannya atau
sekadar berjumpa dengan orang-orang keturunan
tionghoa dengan perawakan tubuh pendek, mata sipit, dan kulit agak kekuningan. Menyeduh
kopi, bercengkrama, dan bermain dengan permainan sejenis gaplek seperti
kebanyakan orang jawa mainkan di warung kopi.
Bengkulu adalah kota dimana Sukarno pernah diasingkan dan berjumpa untuk
pertama kali dengan dengan ibu Fatmawati. Sosok gadis yang menjadi bagian hidup
dari pemimpin pertama Republik ini. Mungkin ide Indonesia saat ini tidak lepas
dari ibu Fatmawati. Nama itu kini diabadikan sebagai sebuah bandara oleh orang
sana dan menjadi bagian dari wajah kota ini, bahkan bagian kecil dari tanah
sumatra yang saya lihat pertama kali.
Jum’at itu untuk kali pertama saya dapat melihat hamparan hijau bumi
republik ini dari ketinggian. Melihat horizon sejauh mata sanggup memandang.
Menyeduh setiap bagian dari Bumi Pertiwi ibarat sebuah pelajaran geografi yang
sesaat itu juga disuguhkan dengan visualisasi nyata nan syahdu. Ingin rasa
melihat republik ini selalu dari ketinggian. Mengabaikan hiruk pikuk masalah
negara ini yang selalu disuguhkan dilayar kaca setiap saatnya. Mengesampingkan
masalah-masalah etnis dan agama yang selalu dimunculkan di permukaan meskipun
pembahasan ini sudah final sejak Pancasila menjadi dasar Negara ini.
Saya masih teringat ketika pada sabtu saya berdiri menyanyikan lagu Indonesia
Raya yang entah kenapa saya baru menyadari bahwa seluruh orang diruangan itu
menyanyikan lagu dengan nada, lirik, dan ritme yang sama. Bahkan saya baru bisa
merasakan bahwa akhirnya saya berada di Indonesia. Indonesia yang bukan hanya
sebatas Jakarta-Banyuwangi, atau Sunda-Jawa-Madura, namun Indonesia seutuhya.
Hari itu saya menyadari bahwa Indonesia ini bukan sekadar wadah, simbol,
ataupun formalitas sebuah negara. Namun Indonesia adalah sebuah kata yang
setiap orang di Republik ini berhak memaknai atau mendefinisikan Indonesianya
dengan koridor ke-Bhinekaan.
Minggu lalu Bengkulu telah memberikan banyak hal kepada saya. Saya selalu asyik
ketika berbicara mengenai Bangsa, Republik, atau Negara bak sebuah kosa kata
yang mudah diucap. Hal yang berbeda adalah ketika apa yang saya ucap hanya berdasar
apa yang saya baca lewat buku-buku tebal yang berjajar menghiasi rak buku di
kamar saya. Saya ingin belajar mengenai Negeri ini seutuhnya, bukan hanya lewat
alunan lembut deretan tulisan. Harap yang selalu terus membumbung di ubun-ubun
adalah ketika saya bisa mengenal Negeri ini seutuhnya.
Ini bukan cerita mengenai apa yang saya lakukan dan dapatkan disana. Ini adalah
cerita dimana saya mulai perlahan-lahan belajar memandang Republik ini secara
komperhensif, secara utuh. Bukan semata-mata hanya melihat secara parsial,
melakukan sampling dan menjustifikasi diri saya bahwa saya sudah mengenal
Negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar